SMAN 1 Tempel-Yang Muda, Yang Berprestasi

SMAN 1 Tempel-Yang Muda, Yang Berprestasi

SMA Negeri 1 Tempel terletak di Banjarharjo, Pondokrejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. SMA yang terletak di kecamatan terjauh dari pusat kota DIY ini didirikan tahun 1998. Dengan usianya yang terbilang cukup muda, SMA ini telah menunjukkan kualitasnya di Kabupaten Sleman, baik dalam bidang akademik, olahraga, maupun kegiatan siswanya.

Dalam hal fasilitas, sekolah ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap dan representatif untuk memenuhi kebutuhan siswanya. Sekolah ini boleh dibilang terletak jauh dari keramaian, karena terletak di dalam dusun yang jauh dari pemukiman, namun hal ini pula yang menjadikan SMAN 1 Tempel sangat nyaman untuk kegiatan mengajar-belajar.

Menurut Ibu Umi Zainab, selaku pembina kegiatan siswa yang kami temui beberapa waktu yang lalu, kegiatan siswa di SMAN 1 Tempel sangat beragam. Siswa diperkenankan untuk memilih ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Banyak kegiatan yang ditawarkan pihak sekolah pada siswa, di antaranya seni baca Al-Quran, futsal, basket, taekwondo, menyanyi, menari, kelompok ilmiah remaja, dan kegiatan lainnya. Siswa secara antusias mengikuti kegiatan-kegiatan itu, meskipun tidak dipungkiri kalau di tengah jalan biasanya semangat siswa mulai mengendur. Namun, dalam hal keolahragaan, beberapa prestasi telah ditorehkan oleh siswa SMAN 1 Tempel. Tercatat, juara III Taekwondo Porda DIY disabet oleh tim dari SMA kebanggan Tempel ini.

“Harapannya, di tahun-tahun mendatang, SMAN 1 Tempel bisa menjadi juara II atau juara I, ya paling tidak mempertahankan prestasinya,” tambah Bu Umi.

Kegiatan karya ilmiah sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir di SMA Negeri 1 Tempel.  Tercatat sejak tahun ajaran 2008/2009, SMA Negeri 1 Tempel telah mengembangkan kegiatan ilmiah di sekolah ini dalam bentuk ekstrakurikuler karya ilmiah remaja (KIR).

“Kegiatan KIR sudah ada dari tahun 2008, namun tidak terlalu aktif” tangkas Bu Umi, Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala. Selain peminatnya yang belum begitu banyak, motivasi siswanya untuk terjun dalam dunia KIR masih belum begitu besar.

“Karena kita ini di pinggiran, jadi susah untuk memotivasi siswanya, Mas,” ungkap Bu Umi sembari melihat siswanya yang tengah istirahat. Meskipun begitu, usaha sekolah untuk mengembangkan KIR cukup besar. Salah satunya adalah mengadakan 12 kali pertemuan dengan mendatangkan pembina dari UNY dan memulai proyek penelitian langsung dengan siswa.

Biasanya, siswa mulai tergerak untuk menggarap penelitiannya jika ada lomba KIR. Tim KIR dari SMAN 1 Tempel hampir tidak pernah absen dalam event lomba KIR yang diadakan oleh dinas pendidikan dan UNY. Meski belum mencapai hasil yang sempurna, dengan mengikuti kegiatan lomba ini, siswa menjadi lebih bersemangat dalam mengerjakan penelitian.

Bu Umi berharap ke depannya kegiatan KIR di SMAN 1 Tempel dapat berkembang dengan baik dan siswanya memiliki motivasi meneliti yang besar.  Target yang ingin dicapai dalam waktu dekat terbilang tidak muluk-muluk, Ibu Umi menargetkan agar siswanya dapat menghasilkan karya dan mengikuti berbagai perlombaan. Semoga harapan dan target Bu Umi untuk kegiatan KIR di SMAN 1 Tempel dapat terealisasi dan KIR di Daerah Istimewa Yogyakarta senantiasa maju dan berkembang. [gayuh]