Sartono Kartodirdjo dan Asketik Intelektual

Sartono Kartodirdjo dan Asketik Intelektual

“Sejarah bukan sekedar narasi. Tidak hanya kisah-kisah serba menyenangkan. Karena itu pendekatannya jangan melulu dari ilmu sejarah, tetapi harus memanfaatkan bantuan ilmu antropologi, sosiologi, berikut disiplin ilmu-ilmu lain. Selain itu, karena menulis sejarah Indonesia, maka cara pendekatannya memang harus Indonesiasentris dan jangan sampai terpesona dengan aneka ragam kisah raja-raja atau orang besar. Sebab rakyat, petani, dan wong cilik juga punya peran sangat bermakna yang juga ikut membentuk sejarah”

(Alm. Prof. Sartono Kartodirdjo_Guru Besar Ilmu Sejarah

Ungkapan diatas datang langsung dari ucapan seorang maestro dalam bidang sejarah yang prestasi, karya dan inspirasinya sudah meluas ke berbagai belahan dunia. Diktum tersebut bisa jadi merupakan representasi dari kehidupan beliau yang mengandung sikap disiplin, arif dan bijaksana. Oleh karenanya, ketika beliau meninggal di umur 86 tahun, tepatnya tanggal 7 Desember 2007, banyak orang yang merasa kehilangan karena sumbangsih dari pemikiran dan tindakan beliau yang memberikan warna baru bagi dunia Sejarah Indonesia.

            Beliau dilahirkan di Wonogiri pada tanggal 15 Februari 1921. Ia menempuh studi S1nya di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 1956. Selanjutnya ia melanjutkan studinya di Yale University, AS. Kemudian karena prestasinya, promotornya yang bernama H.J Benda, meromendasikan ia untuk menempuh studi doktoral di Univeritas Amsterdam. Disitulah ia membuat sebuah masterpiece yang terkenal dan membawa perubahan besar bagi metodologi historiografi Indonesia yang tadinya bersifat individualis menjadi strukturalis. Metode itu berdasarkan pada Mazhab Annales dari Eropa, yang berarti segala perilaku struktur dapat mempengaruhi tindakan agen. Karya besar itu adalah disertasi dari beliau pada tahnu 1966 yang berjudul “The Peasant Revolt of Banten 1n 1988, It’s Condition, Course and Sequel : A Case Study of Social Movement in Indonesia. Disertasi tersebut bercerita mengenai pemberontakan yang dilakukan oleh Petani d Banten terhadap kebijakan tanam paksa yang waktu itu merugikan kaum petani dan pribumi. Dari disertasi itu, ia mencoba merefleksikan kehidupan bangsa Indonesia di waktu itu yang terjangkit virus inferior terhadap bangsa asing. Dari disertasi itu, ia mencoba merubah pandangan itu dengan mendeskripsikan keberanian dari gerakan sosial yang dilakukan oleh petani untuk melawan ketidakadilan. Selain itu, beliau juga dikenal dengan julukan asketik intelektual, yang berarti mengabdikan dirinya secara total untuk kemajuan ilmu pengetahuan. [Dani]