Mengenang Sejarawan Tanpa Batas
“Peranan Onghokham bukan hanya sebatas sejarawan semata, melainkan juga sebagai cendekiawan. Sebagai sejarawan ia menjadi saksi dan tahu peristiwa apa yang menjadi perhatiannya. Sedangkan sebagai cendekiawan ia peka terhadap denyut kehidupan sosial, politik dan budaya masyarakat di sekitarnya.” Andi Achdian dalam Onze Ong : Onghokham Dalam Kenangan.
Berbaju lusuh, berkacamata tebal, dan berkepala plontos. Jalannya yang khas membuat orang-orang dari kejauhan akan mengenalinya. Tas jinjing yang selalu dikepit di sela-sela ketiaknya semakin menegaskan “oh, dia Onghokham !”. Itulah Ong, gayanya yang sederhana membuat dirinya mudah untuk dikenali. Sebagai staf pengajar di jurusan sejarah Universitas Indonesia, dirinya memang tidak begitu eksentrik dalam urusan berbusana. Apa adanya, itulah dirinya. Namun jangan ditanya bila dirinya menghadiri acara-acara kenegaraan atau pesta besar. Satu stel jas Peter Sie, desainer yang sekaligus merupakan sahabat kental Ong, selalu melekat di tubuhnya.
Dirinya mudah ditemui di tempat-tempat umum. Terminal bus dan pasar merupakan spot favoritnya. Mengapa terminal bus? Ong selalu kemana-mana dengan menggunakan kendaraan umum. Baginya dengan naik kendaraan umum, ia mampu melihat beragam fenomena sosial yang ada di sekitarnya, yang tidak bisa dirasakan ketika naik kendaraan pribadi. Lalu mengapa pasar ? Untuk urusan ini terkait erat dengan hobinya yang suka memasak. Dimana ia selalu mencari bahan-bahan masakannya sendiri.
Keluarga ‘Belanda’
Onghokham dilahirkan pada 1 Mei 1933, tepat sembilan tahun sebelum hegemoni Hindia Belanda di Indonesia berakhir. Keluarga ibu Ong sudah turun-temurun tinggal di Indonesia. mungkin sudah sembilan atau sepuluh generasi. Seingatnya, kakek dan nenek dari pihak ibu maupun ayah sudah tidak lagi berbahasa Cina.
Kakek Ong (Tan Hie Soe) dari pihak ibu adalah seorang yang kaya raya. Ia adalah seorang pachter, yakni saudagar yang memborong hak usaha tertentu yang dimiliki pemerintah kolonial. Kakek Ong merupakan keturunan pemimpin masyarakat Cina yang disebut kapitein der Chineezen, yang mempunyai kekuasaan dan dihormati di daerah tempat tinggalnya. Sebagai Kapiten, kakek Ong memiliki hak untuk menarik pajak, hak usaha pegadaian, bahkan hak untuk mendistribusikan opium.
Masa kecil Ong dihabiskan dalam lingkungan yang kebelanda-belandaan, meskipun secara fisik ia terlihat sangat Tionghoa. Sehari-hari Ong berbicara dalam bahasa Belanda. Hidup dalam tradisi Belanda dan bahkan dipanggil dengan nama Belanda. Sinyo Hansje, begitulah biasa dirinya dipanggil. Onghokham mengenyam pendidikan menengahnya di HBS (Hogere Burger School), sekolah yang diperuntukkan bagi orang-orang Eropa dan kaum elite saja. Menurut Ong, sampai duduk di HBS sebenarnya ia tidak memiliki suatu cita-cita yang pasti. Orang tuanya juga tidak mengarahkan Ong pada suatu bidang studi tertentu. Mereka hanya sering membisikkan agar Ong kelak menjadi orang yang berguna.
Minat Ong kepada ilmu sejarah sendiri mulai tumbuh sejak Ong masih duduk di sekolah menengah. Keinginan tersebut timbul karena kebetulan seorang gurunya kebetulan pandai bercerita. Ditambah lagi, Ong kerap memperoleh nilai bagus dalam mata pelajaran sejarah. Pada masa inilah jiwa kesejarahannya terus berkembang. Kisah favoritnya tentang Marie Antoinette, Ratu Perancis yang mati dipenggal dalam peristiwa Revolusi Perancis (1789-1792), terus menginspirasinya untuk menekuni sejarah.
Masa Kuliah
Onghokham sempat berkuliah di jurusan hukum Universitas Indonesia. Sebagai seorang Tionghoa peranakan, jurusan-jurusan populer seperti kedokteran, ekonomi, maupun hukum tentu dianggap keluarganya sebagai jurusan yang prestis dan berprospek. Ong pun terpaksa menempuh jurusan tersebut dengan tujuan menyenangkan kedua orang tuanya. Padahal, hasratnya kala itu sudah tertambat pada sejarah. Akhirnya Ong memutuskan untuk keluar dari jurusan hukum dan masuk di jurusan sejarah. Di sinilah kemudian ia bertemu dengan Soe Hok Gie yang menjadi sahabat, sekaligus partner diskusinya.
Karyanya yang berjudul Runtuhnya Hindia Belanda (1987) menjadi terobosan baru dalam penulisan sejarah Indonesia. Bila kebanyakan penulisan sejarah kala itu lebih didominasi dengan tulisan dari perspektif Indonesiasentris, maka Ong berbeda. Ia melihat periode pergerakan Indonesia dan pendudukan Jepang (1930-an-1940-an) dari sudut pandang kolonial Belanda (neerlandosentris). Tulisan Ong membuka cakrawala baru dalam memandang Indonesia dari beragam perspektif.
Ong sempat bertemu dengan H.J. Benda, guru besar dari Universitas Yale, Amerika Serikat. Dan kebetulan mereka memiliki minat yang sama : Saminisme dan Runtuhnya Hindia Belanda. Sebagai catatan, ‘saminisme’ merupakan skripsi sarjana muda Ong, sedangkan ‘runtuhnya Hindia Belanda’ adalah skripsi sarjana Ong. Melihat potensi yang dimiliki Ong, Benda lalu mengusahakan agar Ong bisa mengikuti program doktor di Yale. Ong kemudian mendapatkan beasiswa dari berbagai lembaga, seperti Asian Society, Asia Foundation, dan Hazen Foundation. Di Yale, ia berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul The Residency of Madiun; Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century. Disertasi Ong ini membahas mengenai perubahan sosial di Madiun pada abad ke-19, yang diwarnai dengan dinamika hubungan antara petani dan priyayi Jawa di bawah rezim kolonial Belanda.
***
Charles beard (1874-1948) pernah berujar : “Masa lampau harus berguna untuk masa sekarang. Pengetahuan sejarah harus memiliki fungsi yang jelas, yakni menjadikan masa kini transparan bagi masyarakat”. Setidaknya hal tersebut coba dirintis oleh Ong. Selama puluhan tahun dia menghasilkan ratusan tulisan di Tempo, Prisma, Kompas, Jakarta Post, dan Matra.. Di samping menggeluti bidang yang memang menjadi spesifikasinya, ia juga peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Di tengah kekuasaan rezim Orde Baru yang cenderung tak tahan kritik, Ong justru kerap menghadirkan kritik dalam tulisannya. Hanya kritik yang ia sampaikan tidak secara tersurat melainkan tersirat. Hal tersebut menunjukkan betapa cerdasnya ide-ide Ong.
Di samping menampilkan sejarah di media massa, Ong juga rajin menulis sejarah populis, yakni tema-tema sejarah yang diangkat dari perspektif rakyat kecil. Tercatat tema-tema seperti preman, gelandangan, makanan, bahkan hingga tuyul pernah menjadi ranah pembahasannya. Khusus untuk tema tuyul Ong memiliki pandangannya sendiri. Bila dikaitkan dengan Marx, maka gagasan tentangrus melejit dengan kekayaannya, yang miskin makin tenggelam dalam kemelaratannya. gagasan anti tuyul dalam masyarakat Jawa bisa dipaskan dengan pikiran-pikiran Marxis yang anti borjuasi, anti kelas orang kaya.
Pada tahun 2001, ketika menghadiri peringatan 80 tahun Sartono Kartodirdjo, Onghokham terkena stroke. Sejak saat itu dirinya harus menggantungkan hidupnya pada kursi roda. Namun semangat menulisnya tidak pernah padam. Dalam segala keterbatasan, dirinya masih aktif menulis, walau hanya berbekal tangan kanannya saja. Impiannya untuk membuat buku masak terus dilakukan. Akan tetapi takdir berkata lain. Ajal ternyata keburu menjemput Ong. Ong tutup usia pada bulan Agustus 2007 dalam usia 74 tahun. Impiannya membuat buku masak memang tak pernah tercapai. Namun kontribusi tulisan dan pemikirannya bagi sejarah Indonesia tak bisa dinafikan lagi. Ong berani menembus sekat-sekat historiografi Indonesia yang cenderung konvensional, dengan memberi warna baru di dalamnya. Itulah Onghokham, sejarawan populis nan kritis.
Referensi :
Onghokham, “Seminar Tuyul & Alam Non-Fisik : Banyak Konsep & Pengalaman Pertuyulan”, Kompas, 26 Oktober 1985.
—————-. Runtuhnya Hindia Belanda. Jakarta : Gramedia, 1987.
Reeve, David, Onze Ong : Onghokham Dalam Kenangan. Jakarta : Komunitas Bambu, 2008.
*Ravando (Alumnus Jurusan Sejarah UGM)
