Dr. Oen Boen Ing: Mengabdi Tanpa Mengenal Pamrih[1]

Dr. Oen Boen Ing: Mengabdi Tanpa Mengenal Pamrih[1]

imageKamis, 18 Juli 2012. Suasana kota Solo masih sangat sepi di pagi buta itu. Seperti kota-kota lainnya pada umumnya, roda aktivitas memang biasanya baru bergerak ketika jarum jam menunjukkan pukul 05.00, atau tepatnya setelah setelah adzan subuh berkumandang. Saya masih duduk terpaku menikmati secangkir teh, sambil membolak-balik lembaran artikel yang ditulis Julius Pour, yang mengulas sosok dokter keturunan Tionghoa bernama Oen Boen Ing. Mata saya menelusuri secara runut kisah praktek dr. Oen, tatkala dirinya menetap di kawasan Pasar Legi, Solo. Rangka waktu kala itu menunjukkan tahun 1975. Oen Boen Ing kala itu sudah berusia 72 tahun, usia yang sebenarnya sudah cukup senja untuk seorang dokter, namun ternyata tidak bagi seorang dr. Oen. Di usianya tersebut, ia masih amat produktif. Semangat melayani masih berkobar dalam dirinya.

Ada yang tidak biasa dalam suasana dini hari tersebut. Di depan salah satu rumah sederhana di kawasan Pasar Legi, Solo, orang-orang sudah berkerumun sebelum pukul 03.00 pagi. Dan tepat pada pukul 03.00, sesosok Tionghoa berbadan kecil dan berkacamata membuka pintu rumahnya. Dengan mantap ia memanggil nama pasien yang sudah berbaris rapi satu per satu. Sosok dokter yang melayani tersebut ialah dr. Oen Boen Ing, dokter yang mendedikasikan hidupnya bagi masyarakat luas. Sebuah fenomena langka? Ternyata hal tersebut justru sudah dikenal lumrah di kalangan masyarakat Solo.

Berjiwa Sosial & Berdedikasi Maksimal

Bagi masyarakat Solo sendiri, figur Oen Boen Ing dikenal sebagai dokter berjiwa sosial dengan totalitas pengabdiannya. Dirinya tidak mengharuskan pasiennya membayar sejumlah uang bila memang tidak punya. ‘Seikhlasnya’, kata itulah yang ia ucapkan kepada setiap pasiennya ketika sang pasien menanyakan berapa jumlah yang harus dibayar. Menerima bayaran minimal, namun dedikasinya maksimal, sebuah sikap sosial langka yang semakin jarang ditemui di era modern seperti sekarang ini, dimana faktor materi terkadang lebih menonjol daripada prinsip ‘menyembuhkan’ sang pasien, yang seharusnya menjadi asas prinsipil dasar dari seorang dokter.

Oen Boen Ing dilahirkan di Salatiga pada 3 Maret 1903. Ia merupakan putra keempat dari tujuh bersaudara. Keluarganya merupakan saudagar tembakau kaya raya. Sejak kecil sebenarnya dirinya sudah diplot untuk meneruskan usaha keluarganya sebagai pedagang tembakau. Namun dirinya memutuskan untuk menjadi dokter meskipun keputusannya tersebut ditentang keras oleh keluarganya. Inspirasi untuk menjadi seorang dokter didapatinya pertama kali saat melihat kakeknya menyembuhkan pasien sakit dengan obat-obatan tradisional Cina. Kebetulan kakeknya merupakan seorang tabib desa. Beliau tidak pernah mempermasalahkan jumlah uang yang dibayarkan pasien yang sakit. Asalkan mereka sembuh, mungkin itulah prinsip yang dianut oleh kakek dr. Oen.[2]

Pelajaran dari Sang Kakek

Siapa sangka kisah sang kakek ternyata telah terpatri dalam jiwa Oen kecil. Dirinya memendam cita-cita untuk menjadi seorang dokter seperti kakeknya kelak. Akhirnya setelah merampungkan pendidikan dasarnya, Oen muda kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke School tot Opleiding van Inlandshce Arts (STOVIA) di Batavia. Pada tanggal 29 Juli 1929, ketika masih di Batavia, Oen muda dipercaya menjabat sebagai sekretaris di Jang Seng Ie (sekarang menjadi RS Husada). Perjuangannya di Jang Seng Ie kala itu tidaklah mudah. Bisa dikatakan pada masa tersebut Jang Seng Ie menderita krisis hebat hingga tidak ada seorang pun yang ingin menjadi ketua. Namun Oen muda bersedia untuk mengemban amanah tersebut di tengah carut-marutnya organisasi.

Oen Boen Ing lulus tahun 1932 dan kemudian mengawali prakteknya sebagai dokter di Kediri, Jawa Timur dalam usia 29 tahun. Pada tanggal 16 November 1934 (dalam usia 31 tahun), dr. Oen menikahi Djie Oen Nio. Bersama dengan istrinya, Oen kemudian memutuskan hijrah dan membuka praktek di Solo.

Di Solo, sejak tahun 1935, ia terlibat secara aktif di sebuah poliklinik kecil bernama Balai Kesehatan Tsi Sheng Yuan (Jisheng Yuan atau Lembaga Penolong Kehidupan). Sesuai dengan nama poliklinik tersebut, dr. Oen mengabdikan ilmu yang didapatnya untuk menyelamatkan hidup banyak orang. Berkat totalitasnya dan perjuangannya yang tak kenal lelah, klinik tersebut mampu tumbuh dan berkembang menjadi Rumah Sakit Panti Kosala yang orang-orang kenal saat ini.[3] Sejak tahun 1944 dr. Oen diangkat sebagai dokter pribadi Istana Mangkunegaran. Beliau juga banyak membantu para pejuang kemerdekaan di Zaman Revolusi, bahkan memasok penisilin untuk Jenderal Sudirman yang menderita TBC.

Atas jasa dan pengabdiannya, Dr. Oen dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Sri Mangkunegoro VIII, dengan nama Kanjeng Raden Toemenggoeng Oen Boen Ing Darmohoesodo. Pada 24 Januari 1993 Sri Mangkunegoro IX bahkan menaikkan gelarnya dari Kanjeng Raden Toemenggoeng menjadi Kanjeng Raden Mas Toemenggoeng Hario Oen Boen Ing Darmohoesodo. Di samping itu, dirinya juga mendapatkan penghargaan Satya Lencana Bhakti Sosial dari pemerintah Republik Indonesia pada 30 Oktober 1979 karena jasa-jasanya dan pengabdiannya yang tanpa pamrih kepada masyarakat.

Dr. Oen Boen Ing tutup usia di Surakarta pada tanggal 30 Oktober 1982 dalam usia 79 tahun. Ribuan orang mengantar kepergian sang dokter ke tempat peristirahatan terakhir. Upacara adat Kraton pun dihelat sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap sang dokter. Junus Jahja, seorang cendekiawan Tionghoa terkemuka, menyematkan label ‘merakyat’ untuk dr. Oen dalam daftar isi bukunya.[4] Sedangkan Julius Pour, seorang wartawan senior Kompas menyebut sosok dr. Oen sebagai pribadi yang tak mengenal pamrih. “Dia secara sukarela melayani pasien tanpa membedakan golongan dan kemampuan finansial.”, ujarnya. Bagi dr. Oen kehidupan seorang dokter akan terasa kosong tanpa didorong kemauan keras menyembuhkan setiap pasien yang meminta pertolongan.[5] Itulah prinsip yang dianut oleh dr. Oen. Mengabdi tanpa mengenal pamrih.

Referensi

Kwee Kek Beng, Buku Peringatan Alm. Dr. Kwa Tjoan Sioe. Jakarta: Keng Po, 1954.

Lima Puluh Tahun Mengabdi, 1933-1983. Surakarta: RS. Panti Kosala, 1983.

Junus Jahja, Peranakan Idealis: Dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2002.

Pelangi Cina Indonesia. Jakarta: Intisari, 2002.

clip_image002

Foto dr. Oen menerima gelar kebangsawanan dari Kraton Mangkunegaran.


[1] Penulis merupakan alumni Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada. Saat ini sedang melanjutkan kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Leiden, Belanda

[2] Pelangi Cina Indonesia. Jakarta: Intisari, 2002., hlm. 185

[3] Untuk mengenang jasa-jasa dr. Oen, maka pada tanggal 3 Maret 1983, Rumah Sakit Panti Kosala diubah namanya menjadi Rumah Sakit Dr. Oen Surakarta.

[4] Junus Jahja, Peranakan Idealis: Dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2002.

[5] Pelangi Cina Indonesia. Jakarta: Intisari, 2002.