Kemajuan ilmu yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya justru menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ibarat cerita Raja Midas yang menginginkan setiap yang disentuhnya menjadi emas. Ternyata ketika keinginannya dikabulkan, dia tidak semakin senang tetapi semakin gelisah bahkan gila. Sebab, tidak saja rumah dan isi rumah yang menjadi emas, tetapi istri dan anak yang disentuh pun menjadi emas sehingga sang Raja akhirnya meratapi nasib yang kesepian tanpa ada makhluk hidup yang mendampinginya.
Ya, ilmu pengetahuan abad dua puluh jelas telah memberi umat manusia berkah melimpah. Ia telah memberi umat manusia kemudahan materi dan memperluas cakrawala pikirannya. Tetapi ia juga mendatangkan kegelisahan jiwa yang hebat dan hilangnya perhatian kita pada pedoman spiritual dan etika—“kebenaran, kehormatan dan keadilan”—yang telah menjadi benteng kokoh setiap peradaban besar masa lalu. Maka kini sangat penting bagi kita untuk menemukan suatu cara pandang (worldview) baru bagi kesadaran kita akan makna yang telah hilang tersebut[1].
Merayakan Krisis Dunia Modern
Bruno Guiderdoni, seorang astrophysics dari Paris Institute, melihat perkembangan ilmu pengetahuan modern telah menjadikan manusia berjarak dengan alam dan membawanya pada krisis spiritual. Ilmu menjadi bebas nilai dan hampa makna. E. F. Schumacher juga berpandangan bahwa dalam abad modern hari ini, telah terjadi perubahan tujuan atas ilmu itu sendiri, yang asalnya ilmu itu ditujukan untuk pemahaman manusia (science for understanding), menjadi ilmu untuk memanipulasi kenyataan (science for manipulation), dan dari penguraian atas tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam, menjadi alat untuk melakukan eksploitasi terhadap alam.
Teknologi sebagai anak kandung ilmu pengetahuan juga dianggap telah menghasilkan dampak negatif bagi kelestarian alam semesta, baik berupa pencemaran lingkungan, bencana alam maupun pada kerusakan moralitas manusia. Belum lagi ketika bidang kedokteran menemukan teknologi kloning dan berbagai rekayasa genetika yang hendak diterapkan pada manusia. Rekayasa genetika yang dulunya diharapkan untuk mengobati penyakit keturunan, sekarang tidak hanya untuk tujuan pengobatan, tetapi untuk menciptakan manusia-manusia baru yang sama sekali berbeda. Sir Francis Galton lalu berpendapat, bahwa ras manusia superior itu memang dapat dikembangkan melalui pembibitan. Secara ideal, seseorang dapat menanamkan bibit “temperamen, sifat, dan kemampuan” yang diinginkan ke dalam suatu spesies (sebagaimana dilakukan terhadap anjing), dan membuang dari spesies itu sifat yang tidak diinginkan, seperti jahat, tidak cakap, dan malas.[2]
Maka kemudian, manusia akan kehilangan hak tertingginya, yaitu kemerdekaan. Karena jika sudah direkayasa untuk menjadi manusia tertentu, maka kebebasan memilihnya menjadi hilang dan dia tidak ubahnya seperti robot yang dikendalikan orang lain. Bukankah model kemajuan ilmu pengetahuan semacam itu secara global akan membawa kita pada persaingan bahkan peperangan gawat. Potensi berbagai senjata nuklir, kimiawi dan biologis dengan berbagai alasan politis dan komersial akan menimbulkan perubahan-perubahan ekologis dan genetik tak terpulihkan yang batas-batasnya tidak dapat diramalkan.[3]
Begitulah jika kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dijadikan sebagai tujuan dan cita-cita seorang intelektual, pada gilirannya peradaban teknologi berubah menjadi kekuasaan yang membelenggu manusia itu sendiri. Nicolas Berdyev, dalam bukunya The Destiny of Man berucap: “Techinal progress testifies not only to man’s strength and powe over nature; it not only liberals man but also weakens and enslaves him; it mechanizes human life and give man the image and semblance of machine”.[4]
Keluar Dari Penjara Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan dan teknologi, bukanlah aspek kehidupan umat manusia yang tertinggi. Tidak juga merupakan puncak kebudayaan dan peradaban umat manusia di dalam evolusinya mencapai kesempurnaan hidup (perfection of existence). Tanpa pemahaman semacam itu, ilmu pengetahuan pasti bercerai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Padahal ilmu pengetahuan itu tidak akan mengalami perkembangan dan tidak akan pernah bermakna, kecuali ia mempunyai kekuatan yang dapat membantu manusia meraih kehidupan yang lebih baik.
Budaya ilmiah yang ditandai dengan investigasi atau penelitian ilmiah seharusnya dilakukan dengan kesadaran penuh sebagai seorang manusia. Karena manusia itu pada hakikatnya memiliki dua sisi. Pertama adalah sisi material yang terjelma dalam komposisi organiknya. Kedua adalah sisi spiritual yang merupakan pentas aktivitas pemikiran mental. Fisik dan mental. Jadi, manusia bukan semata-mata suatu materi yang kompleks, tetapi personalitasnya adalah dualitas elemen material dan nonmaterial.[5] Seperti yang pernah dituturkan oleh Teilhard de Chardin, “Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman- pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi”. Maka dalam ilmu pengetahuan, tidak dapat kita hanya melakukan penelitian pada segala yang fisik. Karena jika tidak, ilmu pengetahuan hanya akan menjadi menara gading. Lebih buruk lagi, menjadi komoditas komersial ekonomi dan politik.
Lalu, apa yang sebenarnya kita tuju dari ketinggian ilmu pengetahuan itu? Jawabannya adalah kebenaran. Kita mungkin akan bertanya kembali, lalu apa yang sebenarnya dimaksud dengan kebenaran itu? Sangatlah sederhana, ia adalah sebuah kerinduan primordial (kerinduan yang teguh, yang sudah dibawa sejak lahir). Merindukan kebenaran adalah fitrah manusia. Kebenaran itu abadi dan universal. Tentu saja, ia berasal dari Yang Maha Benar, yaitu Tuhan. Seluruh ilmu adalah milik-Nya yang diberikan sedikit untuk Nabi, yang kemudian diajarkan kepada umatnya dan para manusia, dimana selanjutnya manusia menggunakan ilmu-ilmu tersebut dalam rangka menjalankan tugas sebagai pemimpin di muka Bumi. Metode ilmiah adalah cara kita untuk menemukan hikmah kebenaran dari alam semesta “macrocosmos” maupun “microcosmos”. Metode ilmiah merupakan alat bagi akal budi kita untuk menkonfirmasi (deduktif) dan menemukan pemahaman baru (induktif) tentang kebenaran.[6] Namun akal budi hanya memiliki peran pendukung dalam proses mencari pemahaman.
Kebenaran sebuah pernyataan juga harus terverifikasi dengan pengalaman. Artinya, apa yang dipikirkan dan dikatakan harus sesuai dengan apa yang dibuktikan dalam perbuatan. Seorang terpelajar sejati bukan oplosan pasti akan memiliki integritas, yang artinya adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, sehingga apa yang mereka katakan adalah apa yang mereka kerjakan. Apa yang dikerjakan adalah apa yang mereka pahami. Dan apa yang dipahami adalah apa yang mereka manifestasikan menjadi sebuah langkah kebajikan.
Wajah Akal Manusiawi dalam Cermin Kenyataan
Ada sebuah cerita menarik yang membenarkan pandangan tersebut, tentang seorang filsuf (ilmuan) yang mendapatkan seluruh kepandaiannya dari membaca buku. Suatu hari sang filsuf menyewa kapal untuk menyebrang Sungai Gangga di India. Di tengah perjalanan, filsuf ini menyombongkan pengetahuannya dan bertanya pada si tukang kapal, apakah ia pernah membaca buku pertama dari ke empat Kitab Weda.
“Maaf, tuan“ tukang kapal itu menjawab. “Saya terlalu sibuk mencari nafkah. Saya tidak punya waktu”. Filsuf itu pun berkata, “Sayang sekali, itu berarti seperempat hidupmu hilang sia-sia.” Si tukang kapal diam saja, menelan mentah-mentah hinaan itu dan terus mendayung. Beberapa saat kemudian, orang bijak itu pun bertanya lagi, “Teman, apa kamu pernah membaca buku kedua dari ke empat Kitab Weda?” Si tukang kapal berteriak jengkel, “Filsuf yang terhormat! Saya sudah katakan saya tidak pernah punya waktu untuk membaca.”
“Maka,” kata sang filsuf sombong, “Bukan seperempat, tapi setengah dari hidupmu akan hilang sia-sia”. Sang filsuf kemudian menanyakan hal yang sama sampai buku ke empat Kitab Weda. Tetapi, tak lama kemudian datang angin tipan menderu-deru di atas permukaan air. Gelombang pun menjadi semakin besar, tidak seperti sebelumnya, menghantam dan mengombang-ambingkan kapal hingga akhirnya kapal itu penuh terisi air. Menit demi menit berlalu. Akhirnya si tukang kapal berteriak di tengah-tengah angin yang menderu-deru itu:
“Tuan filsuf yang terhormat. Tuan telah mengajukan dua pertanyaan kepada saya. Sekarang saya ingin mengajukan satu pertanyaan. Apa tuan bisa berenang?”. Dijawabnya, “Sama sekali tidak,” katanya putus asa sambil berusaha menggapai dayung. “Sayang sekali, dengan sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa seluruh hidup tuan akan segera hilang sia-sia!” Setelah itu, dia terjun ke dalam air dengan lihai berenang ke tepi sungai. Sang filsuf ternyata tidak lebih baik dari si tukang kapal, meskipun dia mungkin pernah menteorikan atau mendefinisikan air, angin dan bagaimana berenang yang aman. Kapal itu akhirnya tenggelam bersama sang filsuf, dan cerita tentang kepandaiaannya itu tak pernah terdengar lagi.
Pesan moral cerita ini sangat jelas: lebih baik mampu ‘berenang’ di tengah-tengah badai kehidupan daripada tahu bagaimana memberikan penjelasan tentang badai itu sendiri dengan menggunakan akal budi teoritis.[7] Keduanya sama-sama memiliki kekurangan. Sang filsuf (ilmuan) tidak pernah ‘turun ke bumi’ membuktikan pengetahuannya. Sementara pemilik kapal memiliki kekeringan spiritualitas karena dalam hidupnya hanya diserahkan pada pencarian materi. Maka artinya, bahwa seorang yang berilmu itu harus selalu menekankan pengujian langsung dengan pengalaman. Sehingga terbangun kesatuan antara pikir, tutur, dan tindakan.
Cara pandang (worldview) semacam itulah yang disebut sebagai sebuah penelitian ke ‘dalam‘ kenyataan dengan sebenar-benarnya. Sayangnya, ilmu pengetahuan modern yang dipengaruhi pandangan materialisme ilmiah menutup pintu bagi banyak pertanyaan menarik yang tak dapat dijawab. Ilmu pengetahuan tidak mau menguji tentang kekekalan jiwa, eksistensi Tuhan, atau tentang apakah besi dapat diubah menjadi emas. Ilmu pengetahuan justru lebih berminat pada beberapa fenomena membosankan yang dapat diukur, yang seolah dengan sukarela menyerahkan semua rahasia sederhananya kepada ilmu pengetahuan.[8] Yang diuji dalam ilmu pengetahuan modern itu adalah konsep-konsep yang telah terbentuk berkaitan dengan kenyataan dari segala sesuatu. Ilmu pengetahuan dibiarkan hanya bersinggungan dan berorientasi pada materi.
Sedangkan cara pandang (worldview) yang seharusnya terbangun dalam budaya ilmiah adalah kita mempelajari ilmu pengetahuan untuk memahami sumber dari segala konsep yang ada, yaitu kesadaran (consciousness) manusia. Ilmu pengetahuan dipahami dan dikembangkan dengan mengikutsertakan kesadaran kita secara mendalam, seperti misalnya bagaimana mencapai kebahagiaan, ketenangan jiwa, keadilan sosial dan keberlangsungan lingkungan hidup. Bahwa pokok-pokok persoalan non-material juga harus dipelajari. Sementara banyak dari mereka yang memproklamirkan diri sebagai ilmuan telah membatasi minat mereka pada pengujian-pengujian fisik semata. Misalnya, ketika melakukan telah terhadap prinsip-prinsip moral, pendekatan mereka pun hanya bersifat statistik, ibarat pandai emas yang mengukur karat sebuah batu permata dengan menggunakan lup; atau seorang kritikus sastra yang menentukan kejeniusan W.S. Rendra hanya dengan mendengarkan banyaknya tepuk tangan meriah penonton.
Penanaman budaya ilmiah bagi para generasi pembelajar harus mampu mengubah perhatian mereka untuk tidak sekedar bertumpu pada masalah material dan dunia fisik belaka. Karena manusia modern mulai merasakan kehampaannya, sampai kemudian tumbuh kesadaran untuk mempertemukan kembali antara spiritualitas dan ilmu pengetahuan. Padahal budaya ilmiah seharusnya ditujukan untuk menyelesaikan kesenjangan antara Das Sein (yang senyatanya) dengan Das Solen (yang seharusnya) dalam kehidupan manusia, yang kesemuanya itu baru akan mampu terjawab dengan kesadaran berpengetahuan.
Mengapa kita perlu memiliki budaya ilmu yang berasal dari pandangan dunia (worldview) semacam itu? Karena dengannya, kita akan selalu terbuka dengan ide-ide baru dari akal pikiran dan hati nurani yang jernih. Maka sebagai seorang pembalajar yang akan terus mengkaji, meneliti, dan mempertajam pengetahuan, kita juga harus memiliki sikap ilmiah, yaitu: (1) rendah hati (manusia bukan sumber kebenaran, karena hanya Dia Yang Maha Benar); (2) Biarkan data yang berbicara (empiris); (3) jangan mudah percaya pendapat orang jika masih belum memuaskan akal pikiran kita (skeptis); (4) jelaskan dengan logika yang benar (argumentatif); dan (5) eksplorasi segala kemungkinan penjelasan (teliti dan detail).
Mengetuk Kesadaran Berpengetahuan Kaum Pembelajar
Pengetahuan itu berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan bagi kelangsungan hidupnya ke depan. Manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna pada kehidupan dan manusia “memanusiakan diri dalam hidupnya”, semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya, yaitu untuk mencapai kesempurnaan seraya kembali ke Dzat Maha Sempurna yang telah menciptakannya.
Sama halnya seperti gunung besar, yang jika hilang identitasnya, hilang keyakinan dirinya, maka hanya akan menjadi pasir yang berhamburan. Tetapi, pasir kecil ketika ia mempunya jati diri, akan mampu menjadi sebuah gunung yang agung. Gunung pun sebenarnya ialah pasir, tetapi, karena ia memiliki makna diri, maka ia mampu memikul suatu peradaban yang besar. Buih-buih ombak apabila telah mengenal dirinya sebagai buih, maka ia pun memiliki kemampuan untuk menunggang samudera. Tetapi jika hilang kesadaran dirinya, tidak mengenal dirinya, maka ia akan hilang begitu saja di permukaan air.
Maka kita sebagai bagian kaum pembelajar harus terus menyadari serta mengenali siapa hakikat diri, keberadaan, peran, dan tanggungjawab kita sendiri. Dengan adanya kesadaran yang dimiliki oleh seorang intelektual itu, maka pengetahuan yang dimiliki pun akan digunakan dengan kesadaran untuk selalu mengamalkan kebajikan. Seperti yang pernah disampaikan oleh Bung Hatta, “Pangkal segala pendidikan ialah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar. Dalam memelihara dan memajukan ilmu, karakterlah yang terutama, bukan kecerdasan. Kurang kecerdasan dapat diisi, kurang karakter sukar memenuhinya”.
Maka sekarang, pilihan berpulang kepada diri kita masing-masing. Pernahkan kita melakukan perenungan ilmiah dengan bertanya pada diri sendiri, “menurut masa depan yang aku bayangkan, akan menjadi manusia apakah kita ini; bukan semata apa yang kita lakukan, tetapi akan menjadi siapakah kita ini?” Hari ini, apakah kita tersadarkan untuk mau kembali menjadi manusia pembelajar—yang memahami hakikat keberadaan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang sadar bahwa dirinya dibekali amanah untuk mengelola hidup demi kebaikan bagi semesta alam—atau membiarkan nilai kemanusiaan kita tergadaikan dalam panggung dunia modern yang penuh kosmetika materialisme ilmiah dan jauh dari keberadaban.
Management – Gadjah Mada University, Yogyakarta Indonesia
[1] J. Donald Walters, Crises in Modern Thought (Jakarta: Gramedia, 2003), hlm. 1
[2] John Naisbitt, Nana Naisbitt, dan Douglas Philips, High Tech High Touch: Pencarian Makna di Tengah Perkembangan Pesat Teknologi (Jakarta: Mizan, 2001), hlm. 165
[3] Amsal Baktiar, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Rajawali, 2008), hlm. 239.
[4] Nicolas Berdyev, The Destiny of Man (1987), hlm. 225-226.
[5] Baqir As-Shadr, Falsafatuna (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 334.
[6] Bagus Riyono, Workshop Metodologi Penelitian, Islamic Psychology Learning Forum (IPLF) UGM
[7] J. Donald Walters, Crises in Modern Thought, hlm. 118
[8] Ibid., hlm. 121
