This is ISPrO

This is ISPrO

Amel, Aidana, Zhaniya dan Kris. Peserta 1st ISPrO mengenakan pakaian khas dari negaranya masing-masing ketika melakukan pameran hasilpenelitiannya. [Foto: @dydhn]

Indonesia, bagi sebagaian peserta 1st ISPrO merupakan negara yang sama sekali belum mereka ketahui sebelumnya. Sampai pada akhirnya mereka berada disini untuk beberapa hari. Menikmati cuaca tropis yang bagi sebagian peserta, terasa sanga berbeda dengan di negaranya. Disini sangat panas, seperti tidak ada udara, sambil mengipas-ngipaskan brosur ujar salah satu peserta dari Bosnia and Herzegovina. Sementara itu, beberapa peserta lainnya yang kami lihat di area pameran penelitian kelihatan sangat kelelahan dan mengantuk. Mungkin karena cuaca Jakarta yang memang selalu terasa panas.

Indonesia adalah sebuah tempat baru yang dikunjungi. Hampir semua peserta dan supervisor mengaku belum pernah datang ke indonesia sebelum ini. Mereka di Jakarta selama kurang lebih seminggu untuk berkompetisi, untuk beraktualisasi dan menunjukan apa yang sudah mereka lakukan untuk mengatasi masalah lingkungan dengan penelitian. Tentunya juga untuk mengenal dan mendapatkan pengalaman baru disini. Karena ini akan menjadi pengalaman baru bagi mereka yang datang dari 23 negara berbeda, hal-hal yang dipersiapkan sebelum datang kesini menjadi menarik untuk diketahui.

Cerita yang pertama datang dari Kazakhstan, yaitu dari Zhansaya dan Dilara yang datang ke Indonesia dan harus kebingungan bagaiamana membuat poster disini. Karena sebelumnya belum sempat membuat di negaranya. Namun berkat bantuan dari salah satu panitia, akhirnya mereka sukses juga mengikuti pameran hasil penelitian di Balairung – UI. Sama seperti yang lainnya, bagi Zhansaya dan Dilara, ini adalah kunjungan pertamanya ke Indonesia. Bagi mereka disini sangat menyenangkan, karena orangnya ramah-ramah. Katanya pada kami saat diwawancara.

Sementara itu, jika peserta lain merasa harus bersusah payah untuk menyesuaikan diri dengan cuaca yang berbeda dengan di negaranya. Tidak demikian bagi peserta dari Madagascar – Ny Aina. Disana beriklim tropis dan kurang lebih sama dengan disini. Disana juga kebanyakan penduduknya petani, juga sama dengan di Indonesia. Kondiis itula pula yang kemudian melatar belakangi alat yang di buat untuk diikutsertakan dalam ajang kompetisi ini. saya tidak butuh waktu lama untuk membuatnya. Hanya pada saat proses mendapatkan idenya saja yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk membaca berbagai refrensi dari internet atau buku.

Ny Aina membuat penelitian dengan judul “Automatic irrigation system by solar energy” yaitu sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang ada dihadapi oleh para petani di negaranya.

Cerita lainnya datang dari Thailand – tepatnya dari Yordrada dan Wachiravalee yang membuat penelitian dengan judul Mosquito repellent by thai local herbs such as oregano and basil. Disekolahnya yaitu sekolah sains dan matematika Siriwat Bitaya Biliqual School, penelitian merupakan hal yang biasa dan wajib untuk dilakukan. Untuk penelitin ini saja mereka sudah mempersiapkannya sejak 6 bulan lalu. Namun sayangnya mereka tidak dapat bercerita lebih banyak lagi tentang persiapan yang dilakukannya. Karena kendala bahasa, dan sedikit malu-malu untuk menceritakannya.

Anna Veronika Smigeilska dari Philippines – menuturkan bahwa ia mendapatkan informasi tentang ISPrO ini dari gurunya. Kemudian ia mencoba mengirimkan karyanya dan akhirnya berhak mengikuti kompetisi di indonesia ini. ia meneliti tentang biofilterasi untuk ikut menyelamatkan lingkungan. Selain itu, dia juga menghimbau teman-teman di sekolahnya untuk membuang sampah pada tempatnya.

Semua peserta melakukan persiapan. Mereka mencari, menemukan dan kemudian mencoba memberikan solusi terhadap masalah yang ada dilingkungannya. Tidak hanya itu, semua sumberdaya juga perlu dimanfaatkan untuk mencapai tujuannya. Dunia sudah menyediakan kemudahan akses informasi dari mana saja dan kapan saja dengan adanya internet. Ketika mereka merasa tidak mampu menyelesaikannya sendiri, mereka tidak diam dan kemudian berhenti. Tetapi mereka mencari bantuan dari orang, lembaga atau siapapun yang dapat membantunya.

Mahatma Gandhi pernah berkata: Dunia selalu dapat menyediakan segala kebutuhan bagi manusia yang dapat bersykur. Tetapi, dunia akan selalu kurang bagi manusia yang serakah. Kini kerusakan lingkungkan telah menjadi isu global yang harus menjadi perhatian setiap orang. Bukan hanya pemerintah atau lembaga tertentu saja. Karena lingkungan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri. Apa yang sudah dilakukan oleh anak-anak muda dari berbagai Negara ini dengan penelitiannya, diharapkan dapat menjadi sebuah upaya sekaligus inspirasi bagi siapa saja untuk selalu peduli dengan lingkungan. Dimulai dari yang terdekat, yaitu lingkungan tempat ia hidup. Semangat kepedulian terhadap lingkungan itulah yang dicontohkan oleh semua kontestan ISPrO 2013. Pada akhirnya, kita dapat berharap untuk adanya masa depan yang lebih baik dengan semakin banyak orang yang peduli lingkungan. [@Dydhn, @eppofahmi]