Membangun Materi Abadi

“Buku yang kubaca selalu memberi sayap-sayap baru. Membawaku terbang ke taman-taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin kujumpai, sambil bermain di lengkung pelangi.” (Abdurahman Faiz)

Ungkapan itu lahir dari kekuatan jiwa seorang penulis cilik yang begitu mencintai buku. Ia menyatakan hal tersebut saat umurnya masih berusia delapan tahun. Bayangkan di umurnya yang masih sangat belia, dia mampu memberikan pandangan luas mengenai arti dari kehadiran buku yang semakin terpinggirkan karena arus modernisasi yang kelewat batas. Pernahkah dari kita ketika berada di tempat umum melihat seseorang yang mengisi waktunya dengan membaca buku? Ataupun bahkan kita sendiri yang mengalaminya? Mungkin sebagian dari kita mampu menjawab ya, tetapi saya yakin sebagian besar tidak akan mampu menjawab ya. Inilah salah satu tanda yang menunjukkan ketidakmampuan kita dalam menjaga dan mengembangkan salah satu budaya literasi yang akan menunjukkan keunggulan bangsa ini, yaitu kebiasaan membaca.

Momen Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei dan Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei harus kita manfaatkan untuk meningkatkan tradisi lisan bangsa ini yang semakin tampak sepi dan tidak terlihat perannya dalam budaya global dan modernisasi saat ini yang lebih didominasi oleh hal yang berbau materi dan teknologi an sich. Data dari berbagai lembaga berikut ini akan bisa menggambarkan betapa mirisnya keadaan bangsa ini dalam tradisi membaca : UNESCO pada tahun 2005 meliris fakta bahwa mahasiswa di negara industri maju rata-rata menyisihkan waktu untuk membaca sebanyak delapan jam per hari. Sedangkan mahasiswa Indonesia hanya dua jam setiap hari. Sementara data dari Badan Pusat Statistika (BPS) tahun 2006 menunjukkan bahwa masyarakat belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama untuk mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca buku, majalah dan koran (23,5%). Sebenarnya tidak ada yang salah ketika kita kita tetap berusaha untuk mencari informasi dari berbagai sumber itu, tetapi bagi saya, media baca seperti buku seharusnya menjadi prioritas utama karena di dalamnya terdapat berbagai ide dan gagasan yang mengandung kearifan dan kebijaksanaan. Sementara itu, APBN pemerintah dalam bidang pendidikan sampai saat ini masih bertahan di angka 20% bahkan tidak semuanya tersalurkan ke berbagai daerah untuk penyediaaan buku. Bandingkan dengan negara tetangga kita, yaitu Malaysia yang memberikan porsi 25%, dan Thailand 30% (UNDP). Data diatas sudah menunjukkan kebobrokan bangsa ini dalam tradisi membaca yang sudah menyentuh ranah kualitas dan kuantitas.

Padahal kalau dimaknai secara penuh, buku bukan hanya merupakan seonggok materi yang tak memberikan arti. Secara fisik, buku memang akan dinyatakan sebagai kumpulan kertas yang bisa dapat berubah fungsi sebagai pembungkus makanan. Tetapi dibalik itu, buku menyimpan dunia ide, jiwa dan gagasan yang akan tersimpan abadi dan tetap hidup. Kita bisa melihat peradaban besar masa lalu yang ada di dunia ini, seperti Yunani dan Islam, bisa sangat terlihat agung karena senantiasa diawali dengan pemunculan ide dan gagasan baru yang memiliki nilai kebajikan. Masyarakatnya seperti merasakan ekstasi ketika membaca buku. Manusia sudah sadar bahwa setiap dari mereka akan mengalami kematian Clicking Here. Kematian jasad memang tidak bisa dihindari, tetapi kita bisa menolak kematian ide dan jiwa. Buku akan menjadi media yang tepat untuk membuat ide dan jiwa akan tetap hidup sampai kehidupan di alam dunia ini berakhir. Kalaupun ada yang takut mengalami takdir kematian, kita tak perlu sepenuhnya khawatir karena bagian dari diri kita yang berupa ide dan jiwa tidak akan pernah benar-benar lenyap.

Selain itu, tradisi lisan membaca yang terjaga baik, akan bisa menjadi antitesis dari keadaan bangsa dan dunia ini yang dikuasai oleh moralitas dan kemanusiaan palsu akibat dari penguasaan dan penghambaan atas materi dan teknologi yang berlebihan. Keunggulan palsu itu yang pada akhirnya menjerumuskan manusia dalam konflik perang dan bentuk kekerasan lainnya yang berujung pada kematian yang sia-sia. Peradaban seperti itu tidak bisa dijadikan sebagai kiblat. Oleh karenanya, dengan menjaga dan mengembangkan tradisi lisan yang penuh dengan ide dan terbalut dengan jiwa yang mulia, maka kita akan bisa membuat tatanan baru yang membuat dunia ini seperti bayangan indah yang diciptakan oleh penulis cilik tadi : terbang ke taman pengetahuan yang paling menawan, berbagi cerita cinta sambil bermain di lengkung pelangi (untuk selamanya).

*ditulis oleh Dani Aufar – Mahasiswa FEB UGM Yogyakarta

Sekretariat Sagasitas - Jalan Cendana No 9 Yogyakarta, 55223 Indonesia
Sanggar Sagasitas - Jalan Pogung Raya 272F, Sinduadi, Mlati, Sleman, 55284 Indonesia