Membayangkan Masa Depan Melalui Pendekatan Interdisipliner Ilmu Eksakta dan Humaniora

Membayangkan Masa Depan Melalui Pendekatan Interdisipliner Ilmu Eksakta dan Humaniora

*) Disampaikan dalam Diskusi Publik Lingkar Studi Bulaksumur (LSB) Seri Teuku Jacob di Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, Kamis 19 Mei

Apakah ada masa depan bagi manusia? Apakah ia menuju kemajuan atau kemunduran? Apakah mental ia bertambah baik atau buruk? Apakah pertumbuhan spesies, konsumsi, dan harapan materialistisnya yang semakin meningkat, serta masyarakat yang padat teknologi yang membawanya jauh dari alam akan membuat manusia makin berbahagia?

Itulah pertanyaan mengenai bentuk kegelisahan dari salah satu cendekiawan UGM yang mewariskan begitu banyak karya dari berbagai perspektif ilmu. Kegelisahan yang dirasakan oleh Prof. Jacob tersebut memang beralasan adanya ketika melihat realita yang terjadi pada manusia yang secara sengaja ataupun tidak, menghamba pada materi dan berbagai bentuk teknologi yang terlalu berlebihan. Manusia juga tidak menampakkan rasa persahabatannya dengan alam yang menjadi tempat bergantung hidupnya sehari-hari. Kita bisa memastikan bahwa tanpa peran serta aktif alam dalam mendukung kehidupan manusia, maka manusia akan cepat musnah dari dunia.    

Manusia diberkati Tuhan dengan kepemilikan akal yang membedakannya dari makhluk lain ciptaanNya, tetapi apakah kelebihan itu bisa termanfaatkan untuk menjamin kelangsungan hidup manusia itu sendiri? Ternyata jawabannya adalah tidak seluruhnya. Akal memang menjamin munculnya ilmu pengetahuan yang dapat memberikan jalan terang untuk menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi manusia, tetapi ternyata dengan kehadiran ilmu pengetahuan itu jugalah yang menyebabkan manusia pada keadaan degradasi, baik secara fisik maupun mental. Ilmu pengetahuan yang sudah dikonstruksikan melalui basis teori dan metodologi, ternyata tidak cukup ampuh untuk memberikan kedamaian hidup bagi manusia. Lalu bagaimana nasib masa depan kita?

Memprediksi Masa Depan

            Membayangkan ataupun meramal masa depan adalah pekerjaan yang sangat sulit. Pepatah dalam Cina Kuno menegaskan pernyataan itu, terutama masa depan yang jauh. Jangka waktu 15 tahun barangkali masih dapat diramal dengan derajat keyakinan yang cukup, tetapi diatas itu kemungkinan sangat kecil untuk benar/sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Untuk apa manusia harus membayangkan masa depan yang akan tercipta? Ada lima kegunaan yang dapat diperoleh, yaitu : (1) mempersiapkan diri untuk perubahan-perubahan yang akan terjadi ; (2) memilih masa depan yang dikehendaki ; (3) mencegah hal-hal merugikan yang mungkin terjadi ; (4) menyesuaikan cita-cita dengan perubahan mendatang ; (5) mengungkapkan keinginan atau kritik terhadap keadaan sekarang.

            Perubahan itu berlangsung abadi, sejak masa lampau yang kita ketahui sampai pada masa depan yang belum kita ketahui. Perubahan tersebut akan meliputi berbagai bidang kehidupan yang akan dijumpai oleh manusia. Kita terus mengalami perubahan, meskipun diantara kita mungkin tidak merasakan adanya perubahan. Inilah letak kesalahan manusia ketika tidak mampu melihat berbagai perubahan yang terjadi diantara masa yang telah terlalui.

            Perangkap lain yang mudah memperosokkan kita adalah cara berpikir yang linear, padahal kehidupan adalah suatu anyaman yang tersusun secara kompleks. Berpikir menurut garis lurus memang mudah dan sederhana karena satu sebab dihubungkan dengan satu akibat. Tetapi dalam kehidupan, berbagai peristiwa yang terjadi pada umumnya mempunyai lebih dari satu sebab dan satu akibat, sehingga harus memaksa kita untuk berpikir secara retikular (dalam bingkai network dan paralel).

            Salah satu metode yang dapat dimanfaatkan untuk memprediksi masa depan adalah menggunakan studi futuristik (SF). Meskipun pemikiran tentang masa depan telah menjadi bagian sejarah manusia, tetapi baru pada 30 tahun yang lalu, muncul apa yang dikenal dengan studi futuristik. SF dapat merespons kebutuhan dalam era yang serba cepat dan diwarnai dengan perubahan-perubahan yang saling berhubungan (McHale,1969). Dalam menggambarkan perlunya memikirkan masa depan, futurolog Prancis yang bernama Gaston Berger mengatakan bahwa semakin cepat laju sebuah mobil, maka harus semakin jauh daya jangkau lampunya agar mampu menghindari bahaya dan hambatan yang mungkin akan muncul secara tidak terduga. Kita menatap ke depan karena kita adalah bagian dari rangkaian-rangkain perubahan yang saling terkait dan terjadi dengan cepat.

Interdisipliner Ilmu Eksakta dan Humaniora

            Salah satu karakteristik dari pendekatan SF adalah adanya interdisipliner. Semua problematika yang muncul tidak lagi dapat dianalisis oleh hanya satu jenis disiplin ilmu, mengingat banyaknya aspek yang melingkupi tiap-tiap permasalahan dengan segala kompleksitas yang ada. Pendekatan seperti ini akan menghasilkan cara-cara yang berbeda dalam memandang ke depan yang digunakan untuk mengkonstruksi masa depan dalam kerangka yang variatif. Sementara dalam waktu yang sama, akan mendeskripsikan berbagai problem yang mungkin akan berkembang di masa mendatang. Dengan memulai langkah awal melalui cara berpikir interdisipliner, kita mampu memahami konsep utopia, seperti yang diungkapkan Ashis Nandy (1987) : malapetaka muncul dari ketidakmampuan untuk mengadakan self critic sementara kekuatan dicapai dengan kemampuan para utopis lewat dialog.

            Prof. Jacob menegaskan pentingnya melihat suatu peristiwa dengan kacamata interdisipliner. Beliau berhasil mengembangkan holisme di bidang kedokteran. Menurutnya, kedokteran holisme itu sangat penting karena pasien akan dianggap sebagai makhluk yang utuh, tidak hanya dirinya saja, melainkan erat kaitannya dengan keadaan keluarga, masyarakat, dan alam kosmos. Kalau tidak ada fragmentasinya, kadang-kadang pasien hanya dianggap sebagai individu dan tidak utuh dalam jaringan kehidupan. Padahal sehat dan sakit itu tidak tergantung sepenuhnya pada individu itu sendiri, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Misalnya adalah penyakit diabetes itu juga tergantung kepada lingkungan, makanan, kemakmuran ekonomi, kebiasaan makan, dsb. Menurut beliau, jika melihat pasien secara fragmentasi, maka kerugian yang ditimbulkan akan semakin besar.

Disinilah letak peran interdispliner ilmu eksakta dan humaniora untuk dapat memprediksi dan mengarahkan masa depan pada kehidupan yang lebih baik. Ilmu pengetahuan baik eksakta dan humaniora harus dikembangkan dengan lengkap untuk kepentingan hidup yang utuh. Terlibatnya ilmu dalam segala aspek kehidupan harus dipegang teguh. Ilmu eksakta dapat berperan dalam peningkatan teknologi yang berguna untuk membantu kehidupan manusia Sedangkan ilmu humaniora dapat berperan dalam memahami manusia secara utuh sebagai subjek utama dalam masa depan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan haruslah berperi-kemanusiaan, mempunyai etika dan jiwa. Ilmu pengetahuan jangan hanya mempelajari sesuatu untuk dijual, dimakan, dipasarkan, ataupun untuk menguasai, menghancurkan dan mengeksploitasi. Dua asas penting dalam etika pengembangan ilmu adalah : (1) primum non cocere, pertama-tama jangan merugikan orang lain, dan (2) primum non tacere, pertama-tama janganlah diam kalau ada sesuatu yang  merugikan orang lain.

            Yang perlu diingat juga, dalam pengembangan interdisipliner ilmu pengetahuan, maka fokusnya adalah harus menyelidiki yang khas Indonesia. Yang harus dicapai adalah kita dapat berdiri sendiri dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan hanya sedikit atau tidak tergantung pada bangsa lain. Dunia memang makin interdependen, tetapi kita jangan sampai terlalu dependen pada bangsa lain. Contohnya saja, di Indonesia masih banyak ilmuwan yang mengagungkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersumber dari barat yang cenderung eksploitatif, sangat kompetitif, kurang didukung dengan etika, materialistis individualistis, dan menganggap ketidaksetaraan adalah alamiah. Oleh karenanya kita harus bersikap kritis, skeptis terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersumber dari luar. Selanjutnya tugas kita adalah mengkonstruksi secara mandiri iptek yang ingin kita bangun untuk masa depan. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Jacob, “Ilmu-teknologi yang kita kembangkan seyogyanya sederhana dan moderat dalam intensitas dan ekstensitas, tidak menganggu kelestarian hayat dan alam, humanistis, kolektivis, memperhatikan keamanan manusia dan meraih kemajuan yang berpusatkan pada manusia (human-centered)”.

*) Ditulis Oleh Dani Aufar (Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Jurusan Manajemen 2007)

Referensi :

–     Abrar, A.N, dkk. 2004. Rektor-Rektor Universitas Gadjah Mada: Biografi Pendidikan.               Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.

–     Budianto, I.M. 2005. Realitas dan Objektivitas: Refleksi Kritis Atas Cara Kerja Ilmiah. Wedatama Widya Sastra : Jakarta.

–  Jacob, Teuku. 2006. Manusia Makhluk Gelisah: Melalui Lensa Bioantropologi. Muhammadiyah University Press : Surakarta.

–    Masini, E.M. 2004. Studi Futuristik: Kebutuhan, Perkembangan, dan Metode Mengarahkan Masa Depan. Kreasi Wacana : Yogyakarta.

–     Sajogyo & Somantri, G.R. 2006. Ilmu Sosial di Persimpangan Jalan: Sebuah Dialog Lintas Generasi. Fisip UI Press : Depok.

–      Sardar, Ziauddin. 2005. Kembali Ke Masa Depan. Serambi Imu Semesta : Jakarta.