Peserta 1st ISPrO dari Jerman dalam sesi pembukaan acara dan perkenalan peserta [Foto: @dydhn]
International science project Olympiad (ISPrO) adalah sebuah kompetisi penelitian siswa setingkat SMA dari seluruh dunia. Diselenggarakan oleh kemdikbud dan pasiad Indonesia pada tanggal 19-24 Mei 2013. Kegiatan ini dimulai dengan pembukaan acara yang dilaksanakan di gedung pewayangan TMII, pameran hasil penelitian dan penjurian yang dilakukan di Balairung Universitas Indonesia. Sementara itu, penutupan acara dan pengumuman pemenang dilaksanakan di Plaza Berperstasi Kemendikbud pada tanggal 24 Mei.
Adapun tujuan dilaksanakannya kompetisi ini adalah untuk memberikan apresiasi sekaligus ruang berkreasi dalam inovasi bagi para siswa yang memiliki minat melakukan penelitian. Diharapkan dengan adanya ajang ini, siswa dapat bersosialisasi dan mengasah kemampuannya dalam mempresentasikan hasil penelitiannya dalam rangka mengatasi berbagai permasalahan yang ada di lingkungannya masing-masing. Terutama untuk siswa dari Indonesia, yang dalam ajang ini diwakili oleh 15 tim yang terdiri dari 30 siswa terpilih dan terbaik. Mereka semua sudah melalui tahapan seleksi dalam kompetisi local sebelumnya. Baik yang mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) ataupun ISPO.
Bidang yang dilombakan dalam penilitian ini dibagi menjadi tiga, yaitu: Environment biology, chemistry dan Physic. Totalnya, terdapat 92 siswa yang berasal dari 23 negara yang berbeda berkomopetisi disini. Mereka semua membawa hasil penelitiannya masing-masing, yang unik-unik dan berbeda-beda, sesuai dengan karakteristik dan masalah yang ada di negaranya. Mereka semua bersaing (dalam arti positif) untuk menjadi yang terbaik, untuk mendapatkan medali emas, perak atau perunggu yang sudah disiapkan panitia.
Kalau bukan ahlinya mungkin akan kesusahan untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan medali-medali tersebut. Karena semua penelitian memiliki kualitas dan nilai manfaat yang baik untuk mengatasi masalah dilingkungannya. Sejatinya, hal tersebut tidak mengherankan karena semua peserta melakukan persiapan yang sangat serius dalam melakukan penelitian dan kemudian datang ke Indonesia untuk berkompetisi di ISPrO.
Hal menarik, walaupun kompetisi ini di peruntukan unutk siswa yang duduk di bangku SMA namun ternyata ada juga peserta yang masih duduk di bangku SMP. Walaupun masih kecil namun penelitiannya tidak dapat dianggap kecil atau diremehkan dan kalah saing dengan hasil penelitian siswa setingkat SMA.
Sebagai contoh, Omer – Peserta dari Turki yang masih berusia 13 tahun. Yang dibuatnya sungguh sangat tidak dapat dianggap hal kecil. Karena Omer berhasil membuat solar cell dari terong. Bahkan ia sudah berencana untuk melakukan percobaan dengan menggunakan berbagai macama buah-buah lainnya untuk penelitian selanjutnya. Tentu, hal seperti ini tidak dapat di sepelekan, mengingat bagaimana kebutuhan energy saat ini dan sumberdaya alam yang tersedia untuk memenuhinya. Penelitian ini sudah ia persiapkan sejak jauh-jauh hari sebelum akhirnya mendapatkan panggilan untuk menjadi salah satu peserta ISPrO yang pertama ini.
Tidak hanya Omer, peserta dari Pakistan – Hamdan Ali Bhatti, Juga sudah melakukan persiapan dengan maksimal selama beberapa bulan. Bahkan ia mengaku sudah pernah memakan ash (hasil penelitianya) dan terbukti tidak berbahaya bagi manusia. Saya masih hidup, dan sekarang saya disini, di Indonesia mengikuti kompetisi setelah memakan ini. Ucapnya dalam bahasa inggris dengan logat yang kental. Bagi remaja yang mencintai kegiatan naik gunung ini, pengalaman melakukan penelitian tentang ash adalah yang pertama baginya dan langusng dapat mengikuti kompetisi ini. Saya sangat bersykur. Tutupnya.
Lain halnya dengan …. Dari Malaysia yang membuat kripik sayuran karena merasa prihatin dengan makanan yang banyak disukai terutama oleh anak-anak ini banyak mengandung MSG yang tidak terlalu baik untuk kesehatan jika dikonsumsi secara terus menerus. Awalanya, mereka membuat penelitian sebagai salah satu syarat kelulusan dari sekolahnya. Siswa disekolahnya diwajibkan melakukan penelitian minimal satu penelitian dan dapat dilakukan secara kelompok dengan batas makasimal dua orang sebagai syarat kelulusannya. Selanjutnya, mereka berharap penelitiannya dapat bermanfaat masyarakat yang kini cenderung mengabaikan kesehatan dengan memperhatikan makanan yang dimakannya.
Dalam sebuah wawancara dengan salah satu supervisor dari Thailand, akhirnya saya tahu juga bahwa disana persiapan benar-benar dilakukan dengan serius. Khusunya untuk penelitian di sekolah siriwat bitaya biliqual school. Bagi ibu yang sudah pergi keberbagai Negara di dunia dalam rangka mengantarkan anak didiknya berkompetisi, penelitian merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh siswa. Terutama disekoahnya yang merupakan sekolah khusus sains dan matematika.
Begitulah persiapan yang dilakukan para peserta ISPrO yang pertama ini. Tidak ada kemengan tanpa pengorbanan. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan usaha yang mereka lakukan dalam melakukan penelitian dan mencoba untuk mendapatkan yang terbaik dalam kompetisi ini. Bahkan terkadang mereka dianggap seperti “orang gila”. Seperti Najib – dari Malaysia yang harus bangun jam 2 pagi untuk kemudian masak. Ini merupakan sesuatu yang tidak biasa dinegaranya, terutama ketika dilakukan oleh seorang laki-laki. Atau seperti … yang setiap hari harus mencari jamur di sebuah kawasan yang terkontaminasi nuklir akibat kecelakaan nuklir Chernobyl. Sungguh merupakan kegiatan yang sangat beresiko.
Semoga semuanya mendapatkan hal terbaik dan penghargaan atas semua usaha dan jerih payahnya. Silahkan baca cerita dari para peserta lainnya dalam artikel: Inilah ISPrO [@eppofahmi, @dydhan]
