MAN 2 Yogyakarta-Punya KIR Agama

Di sekitar Jalan KH. Ahmad Dahlan, berdiri kokoh sebuah sekolah bercirikan Islam. Sekolah tersebut adalah MAN 2 Yogyakarta. Dalam mengembangkan potensi siswanya, selain penyelenggaraan proses mengajar-belajar, berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler pun telah disediakan untuk menampung minat dan bakat siswa. Ada pleton inti, olahraga, seni, kelompok ilmiah remaja, pramuka, dan masih banyak lagi kegiatan lainnya. Dari sekian banyak ekstrakurikuler tersebut, yang paling diminati adalah ekstrakurikuler pleton inti. Namun kali ini, jurnal Sagasitas khusus membahas salah satu ekstrakurikuler di bidang keilmuan, di madrasah yang gedungnya berkarakteristikkan Belanda tersebut, yaitu kelompok ilmiah remaja (KIR).

Kegiatan KIR di MAN 2 Yogyakarta mendapatkan dukungan penuh dari pihak sekolah, baik segi finansial, fasilitas, maupun moril. Secara teknis, kegiatan ekstrakurikuler KIR ini terbagi menjadi tiga bagian sesuai dengan minat yang dipilih siswa. Bagian-bagian tersebut antara lain KIR: IPA, IPS, dan Agama. Semua itu menjadi satu dalam payung KIR MAN 2 Yogyakarta. Pemisahan tersebut dilakukan untuk mencapai spesialisasi terhadap siswa yang melakukan penelitan. KIR dibimbing oleh dua pembimbing yang sudah kompeten di bidangnya.

Ada satu hal yang unik dalam pengembangan kegiatan KIR di MAN 2 Yogyakarta, yaitu KIR Agama, yang baru saja dibentuk tahun ini. Ibu Sri Nurdianingsih, pembimbing KIR MAN 2 Yogyakarta, menegaskan bahwa KIR Agama dibentuk bertujuan untuk memfasilitasi siswa MAN 2 Yogyakarta yang ingin melakukan penelitian di bidang agama. Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk mempersiapkan siswa dalam menghadapi perlombaan tingkat nasional yang bertemakan agama, seperti halnya yang secara rutin diadakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Ekstrakurikuler yang rutin dilaksanakan setiap seminggu sekali ini ternyata juga memiliki beberapa kendala dalam proses pengembangannya. Masalah klasik yang sering dialami dalam pengembangan KIR di MAN 2 Yogyakarta ini antara lain adalah minat dan motivasi siswa. Di sini guru pembimbing dituntut untuk lebih kreatif dalam memberikan materi dan menarik perhatian siswa. Walaupun motivasi siswa dapat saja timbul dari siswa lain, namun di sini guru pembimbing juga memiliki pengaruh yang cukup besar. Pasalnya, guru pembimbing lah yang menentukan atmosfir kelas; bagaimana cara guru pembimbing menghidupkan kelas dan membuat aktivitas di dalamnya menarik dan menyenangkan.

Ibu Sri Nurdianti dan Bapak Fajar Rahmadi, selaku pembimbing KIR MAN 2 Yogyakarta, lebih jauh, menuturkan bahwa kurangnya link dengan lembaga-lembaga riset merupakan kendala berikutnya yang dihadapi MAN 2 Yogyakarta. Terutama adalah dalam hal uji lab yang tidak dapat dilakukan di sekolah sendiri, dan akses untuk menemukan ide bagi siswa.

Ke depannya, guru pembimbing berharap agar minat siswa di bidang KIR semakin tinggi. Selain itu, pembentukan klub KIR sekolah sangat dibutuhkan untuk menunjang kepengurusan dan pemberdayaan yang lebih baik lagi. [Shofi]