Anak Agung Gde Agung: Doktor Indonesia yang Namanya Abadi di Leiden

aagdeagung-in“Kita harus menetapkan langkah untuk mengembalikan tradisi Bali dan agama kita. Turis asing seharusnya tidak hanya datang ke Bali untuk menonton turnamen tenis dan golf. Tidak juga untuk hanya mendengarkan musik Jazz/Rock atau menonton balapan mobil. Hal-hal tersebut bisa mereka nikmati di tempat lain. Bali seharusnya menawarkan apa yang menjadi tradisi Bali. Jangan korbankan kebudayaan Bali demi kepentingan jangka pendek pariwisata untuk menarik wisatawan sebanyak-banyaknya”

-Anak Agung Gde Agung –

Sumber Foto: dari sini

Ketika minggu kedua di Leiden, saya berkesempatan menyaksikan seorang kawan mempertahankan tesis S-2nya di ‘Academiegebouw’ (Gedung Akademik) Universitas Leiden. Ada satu tradisi unik yang ternyata sudah menjadi kebiasaan turun-temurun bagi para mahasiswa yang dinyatakan lulus dari universitas tertua di Belanda, yang dibangun pada tahun 1575 tersebut. Selepas ujian, mereka diberikan kesempatan untuk membubuhkan tanda tangannya di satu ruangan khusus bernama “Zweetkamertje”. Mata saya menerawang, dan seketika langsung tertuju pada beberapa bingkai kaca yang berisikan beberapa tanda tangan. Nama-nama figur terkemuka seperti Ratu Beatrix, Ratu Wihelmina, Nelson Mandela, Winston Churchill, hingga Albert Einstein terpampang di sana. Ternyata bingkai tersebut memang dikhususkan bagi para tokoh terkemuka yang pernah melakukan studi di Universitas Leiden. Namun yang mengejutkan saya, tepat di urutan kesembilan, ada tanda tangan seorang Indonesia di dalam bingkai khusus tersebut. Orang itu bernama Anak Agung Gde Agung.

[…]

Dr. Oen Boen Ing: Mengabdi Tanpa Mengenal Pamrih[1]

imageKamis, 18 Juli 2012. Suasana kota Solo masih sangat sepi di pagi buta itu. Seperti kota-kota lainnya pada umumnya, roda aktivitas memang biasanya baru bergerak ketika jarum jam menunjukkan pukul 05.00, atau tepatnya setelah setelah adzan subuh berkumandang. Saya masih duduk terpaku menikmati secangkir teh, sambil membolak-balik lembaran artikel yang ditulis Julius Pour, yang mengulas sosok dokter keturunan Tionghoa bernama Oen Boen Ing. Mata saya menelusuri secara runut kisah praktek dr. Oen, tatkala dirinya menetap di kawasan Pasar Legi, Solo. Rangka waktu kala itu menunjukkan tahun 1975. Oen Boen Ing kala itu sudah berusia 72 tahun, usia yang sebenarnya sudah cukup senja untuk seorang dokter, namun ternyata tidak bagi seorang dr. Oen. Di usianya tersebut, ia masih amat produktif. Semangat melayani masih berkobar dalam dirinya.

Ada yang tidak biasa dalam suasana dini hari tersebut. Di depan salah satu rumah sederhana di kawasan Pasar Legi, Solo, orang-orang sudah berkerumun sebelum pukul 03.00 pagi. Dan tepat pada pukul 03.00, sesosok Tionghoa berbadan kecil dan berkacamata membuka pintu rumahnya. Dengan mantap ia memanggil nama pasien yang sudah berbaris rapi satu per satu. Sosok dokter yang melayani tersebut ialah dr. Oen Boen Ing, dokter yang mendedikasikan hidupnya bagi masyarakat luas. Sebuah fenomena langka? Ternyata hal tersebut justru sudah dikenal lumrah di kalangan masyarakat Solo.

[…]

Selo Soemardjan

clip_image002Sultan Hamengku Buwono IX berpesan kepada putranya, Sultan Hamengku Buwono X agar selalu mendengarkan dan meminta nasihat kepada Selo kalau menyangkut persoalan sosial kemasyarakatan. Ia orang yang tidak pernah berhenti berpikir dan bertindak.

Dulu sekali, ketika saya masih duduk dibangku SMA yang kebetulan mendapat pelajaran sosiologi, saya sering sekali mendapatkan definisi – definisi tentang konsep social yang ada di buku sekolah atas nama Selo Soemarjan. Waktu itu saya tidak pernah ambil pusing tentang siapa yang memberikan definisi tersebut, saya hanya focus menghafal dan mencoba memahami definisinya agar ketika ujian saya dapat menjawab so’al.Namun seiring berjalannya waktu rasa ingin tahu tentang siapa sosok “Selo Soemarjan” pun muncul kembali, karena ternyata beliaulah bapak sosiologi Indonesia, ilmuwan yang memiliki pengalaman menjadi pejabat pemerintahan.

Sejarah hidup

Selo Soemardjan atau yang memiliki nama lengkap Kanjeng Pangeran Haryo Prof. Dr. Selo Soemardjan Lahir di Yogyakarta pada tanggal 23 Mei 1915 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 11 Juni 2003. Pendidikan dasarnya dilalui di HIS, Yogyakarta (1921-1928), kemudian lanjut ke MULO, Yogyakarta (1928-1931), MOSVIA, Magelang (1931-1934) dan Universitas Cornell, Ithaca, New York, AS (Sarjana, 1959 Doktor, 1959). Mungkin kita sedikit bertanya – tanya darimana beliau mendapatkan gelar “Kanjeng Pangeran Haryo”. Apakah beliau ada darah keratonnya atau bagaimana?.

[…]

Energi Tri Mumpuni; Hidup Sekali Hiduplah Yang Berarti

Siapa perempuan yang bisa menggugah warga desa untuk ”membuat” listrik murah dan menjualnya kepada PLN? Dialah Tri Mumpuni Wiyatno, insinyur pertanian lulusan Institut Pertanian Bogor….

Hampir setiap waktu, perempuan itu selalu bergerak bak kutu loncat. Hari ini, ia bisa ada di Jakarta. Namun besok harinya, tak mustahil ia ada di sebuah desa terpencil di Sulawesi. Lain waktu, ia juga hadir dalam sebuah pesawat menuju Filipina, tapi lusa bisa jadi ia tengah berkuda menembus hutan untuk mencapai dusun terisolasi di Sumbawa. ”Tuntutan kerja memang menghendaki demikian, tapi saya nikmati kok,” katanya sembari tersenyum. Hidup Tri Mumpuni seolah tak mengenal kata lelah. Pengabdiannya kepada masyarakat, terutama yang ada di desa-desa, memang luar biasa. Karena upaya dia dan kawan-kawanya di Ibeka (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), ratusan desa di seluruh Indonesia bisa menikmati cahaya listrik. Padahal, sebelumnya, tempat-tempat yang ”diterangkan” oleh Puni—panggilan akrab dia—adalah kawasan yang tak terjamah teknologi. […]

Sartono Kartodirdjo dan Asketik Intelektual

“Sejarah bukan sekedar narasi. Tidak hanya kisah-kisah serba menyenangkan. Karena itu pendekatannya jangan melulu dari ilmu sejarah, tetapi harus memanfaatkan bantuan ilmu antropologi, sosiologi, berikut disiplin ilmu-ilmu lain. Selain itu, karena menulis sejarah Indonesia, maka cara pendekatannya memang harus Indonesiasentris dan jangan sampai terpesona dengan aneka ragam kisah raja-raja atau orang besar. Sebab rakyat, petani, dan wong cilik juga punya peran sangat bermakna yang juga ikut membentuk sejarah”

(Alm. Prof. Sartono Kartodirdjo_Guru Besar Ilmu Sejarah […]

Sekretariat Sagasitas - Jalan Cendana No 9 Yogyakarta, 55223 Indonesia
Sanggar Sagasitas - Jalan Pogung Raya 272F, Sinduadi, Mlati, Sleman, 55284 Indonesia